Optimalisasi Layanan KTM bagi Mahasiswa Angkatan 2024–2025 Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) merupakan identitas resmi yang melekat pada setiap mahasiswa aktif. Selain menjadi penanda status akademik, KTM juga berfungsi untuk berbagai keperluan administratif serta akses fasilitas kampus. Namun, khususnya pada mahasiswa angkatan 24 dan 25 masih ditemukan kebingungan terkait informasi pembuatan KTM yang dirasa belum tersampaikan secaramerata.
Amanda, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2024, mengaku mengetahui informasi
pembuatan KTM hanya dari sesama mahasiswa melalui grup WhatsApp. Informasi tersebut belum
disertai kepastian waktu penyelesaian. Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya belum pernah menanyakan langsung ke pihak kampus dan belum mengetahui berkas apa saja yang diperlukan. Meski demikian, Amanda menilai KTM merupakan hal yang sangat penting bagi mahasiswa. Menurutnya, KTM bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga dibutuhkan untuk menunjang aktivitas di lingkungan kampus.
“KTM itu penting karena jadi identitas mahasiswa, terus bisa dipakai buat keperluan administratif dan
akses fasilitas,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa ketiadaan KTM kerap menimbulkan pertanyaan di kalangan mahasiswa. “temen-temen juga nanyain kenapa belum ada info tentang KTM. Jadi kan kalau misalnya udah ada enaknya, kalau misalnya mau masuk kesini tinggal tap aja”. Hal serupa disampaikan oleh Akmalia, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2024. Ia mengaku sudah mendapatkan informasi pembuatan KTM dari dosen melalui salah satu grup dan sempat mengisi formulir yang disediakan. Namun, hingga kini proses tersebut belum berlanjut karena belum adanya dari pihak kampus.
“Waktu itu pernah ke SBA tapi cuma sekilas doang tapi akhirnya ga dilanjutin karena ngeliat temen-
temen yang lain juga gaada yang nanyain KTM, jadi ya udah ga nanya lagi,” ujarnya. Berdasarkan informasi dari formulir yang diisinya, Akmalia menyebut bahwa data yang dibutuhkan meliputi nama, NPM, fakultas, program studi, serta foto diri. Ia menilai KTM sangat dibutuhkan sebagai bukti mahasiswa aktif, terutama untuk keperluan di luar kampus. “kadang-kadang ada beberapa kaya misalnya kita mau ngelamar kerja tapi sebagai mahasiswa terus membutuhkan KTM itu gitu. Contohnya baru-baru ini saya lihat ada iklan di spotify, nah spotify itu kan salah satu aplikasi berbayar buat dengerin lagu kan terus ada iklan bahwa mahasiswa bakalan gratis pake spotify itu asalkan ada keterangan kita tuh mahasiswa,” katanya.
Ia berpendapat bahwa proses pembuatan KTM seharusnya bisa dilakukan dengan lebih cepat dan
menyarankan agar kartu tersebut sudah dibuat sejak mahasiswa masih di semester satu. Sementara itu, Rafly, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 2024, menyoroti tidak adanya informasi resmi terkait KTM sejak awal perkuliahan. Ia mengatakan bahwa informasi yang beredar di kalangan mahasiswa cenderung simpang siur dan lebih banyak berasal dari inisiatif pribadi.
“ketika semester 1 belum ada informasi ktm tapi ada beberapa teman saya yang sudah mendapatkan
ktm tersebut mereka mengulik sendiri jadi tidak ada informasi resmi dari entah itu dari kaprodi atau
dekanat ataupun dari universitas jadi masih simpang siur tentang ktm ini.” katanya. Rafly mengungkapkan bahwa ia sempat menanyakan hal tersebut kepada teman di fakultas lain yang sudah memiliki KTM. Dari situ, ia mengetahui bahwa di fakultas tertentu terdapat sistem yang lebih terstruktur. Namun, ketika mencoba mencari kepastian di fakultasnya sendiri, belum ada informasi resmi dan mahasiswa diminta menunggu.
“KTM itu sifatnya penting apalagi ini ranahnya udah universitas jadi ktm itu sangat penting banyak
manfaatnya, yang pertama kalo kita ingin memvalidasi kita kuliah dimana itu ktm jadi sarana nomer 1 untuk membuktikan bahwa kita itu kuliah di universitas tersebut gitu, jadi makanya kalo misa kita itu ga ada ktm terus tiba-tiba kita harus memvalidasi kita kuliah dimana itu sangat susah apalagi ktm itu sifatnya kaya ktpnya universitas gitu jadi kalo gaada ktm kita juga bingung untuk memfalidasi kita kuliah dimananya itu,” ungkap Rafly.
Ia juga menyampaikan keluhannya terkait ketiadaan layanan resmi pembuatan KTM di universitas. “tidak ada informasi resmi tentang ktm terus kalo ada pun orang yang menyediakan buat pembuatan ktm ini berbayar makanya keluhan pertama saya itu kenapa tidak ada fasilitas langsung pembuatan ktm di tempat kaya adanya jasa layanan dari universitas buat pembuatan ktm,” tambahnya. Menanggapi keluhan mahasiswa, Pak Putra (gelar), selaku biro kemahasiswaan membenarkan pernyataan tersebut. Hal tersebut kemudian dibahas dalam rapat pimpinan universitas dan ditindaklanjuti dengan penerapan sistem baru berbasis Standar Operasional Prosedur (SOP) yang saat ini masih dalam tahap penajaman.
“banyak mahasiswa yang bertanya udah lama jadi mahasiswa kok ga punya ktm berdasarkan itu
jajaran unla tentu ada rapat rapat dengan pimpinan unla itu akan diwujudkan dengan sistem baru,”
jelasnya.
Ia memaparkan bahwa proses pembuatan KTM melibatkan tiga pihak utama, yaitu fakultas, biro
kemahasiswaan, dan P3TI. Fakultas bertugas mengumpulkan data mahasiswa melalui formulir daring, kemudian data tersebut diverifikasi oleh biro untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam input data mahasiswa. Setelah dinyatakan valid, data diserahkan ke P3TI untuk dicetak. KTM ini nantinya bukan cuma identitas mahasiswa, tetapi juga kartu akses masuk gerbang kampus. Tujuannya untuk
keamanan, supaya yang masuk ke kampus itu benar-benar mahasiswa. Pak Putra juga menyampaikan bahwa mahasiswa angkatan sebelumnya yang belum memiliki KTM tetap mengikuti prosedur baru melalui pendaftaran di fakultas masing-masing. Proses pembuatan KTM tidak dipungut biaya, sementara penggantian akibat kehilangan dikenakan biaya sebesar Rp25.000. Dengan tersedianya mesin cetak baru di P3TI, proses pencetakan diharapkan tidak lagi
memakan waktu lama. Melalui sosialisasi yang lebih terstruktur dan penyampaian informasi yang jelas, pihak kampus berharap mahasiswa dapat memahami alur pembuatan KTM secara menyeluruh. Dengan demikian, KTM tidak hanya menjadi identitas formal, tetapi juga mendukung kelancaran aktivitas dan keamanan di lingkungan kampus.
Reporter: Chika, Zenab
Penulis: Ilsan
Desain: Tuti
==========
Narahubung,
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum
Instagram : @lpm.momentum.unla