Transisi dan Adaptasi Mahasiswa Baru dalam Menjalani Kehidupan Kampus

Author : Master Admin in Info Kampus

Masa awal perkuliahan menjadi fase penting bagi mahasiswa baru dalam menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran dan lingkungan kampus. Peralihan dari pola belajar di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ke perguruan tinggi menghadirkan perubahan besar, terutama dalam hal kemandirian belajar, pengelolaan waktu, serta keberanian berinteraksi dengan dosen.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Adi Prapktika, S.T., M.M., menilai bahwa tantangan utama mahasiswa baru bukan terletak pada beratnya materi perkuliahan, melainkan pada kesiapan mental dan motivasi belajar mahasiswa itu sendiri. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki tingkat penerimaan yang berbeda sehingga dosen perlu menciptakan suasana belajar yang nyaman.“Yang terpenting itu bukan metodenya, tapi bagaimana dosen bisa memotivasi mahasiswa agar merasa senang dulu. Kalau sudah senang, mereka akan lebih mudah menerima materi,” ujarnya.

Bapak Adi juga menyoroti masih banyaknya mahasiswa baru yang merasa malu untuk bertanya. Padahal, menurutnya, dosen justru senang ketika mahasiswa aktif berdiskusi. Ia mendorong mahasiswa untuk mulai mencari dan mempelajari materi secara mandiri, termasuk memanfaatkan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), sebelum kemudian berdiskusi lebih lanjut dengan dosen. “Belajar itu learning by doing. Mahasiswa harus aktif mencari, bertanya, dan mengatur waktunya sendiri”, tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Dr. Nita Kanya, S.E., M.M., dosen FEB, yang menyebut bahwa perubahan ritme belajar dari SMA ke perguruan tinggi sering kali membuat mahasiswa kewalahan. Jika di SMA siswa terbiasa dengan sistem yang disiplin dan terjadwal, di perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk mandiri dalam mengatur kehadiran, tugas,
hingga target kelulusan.

“Di perguruan tinggi, mahasiswa harus mandiri. Mau masuk atau tidak, mau cepat lulus atau tidak, semua kembali kepada mahasiswa,” jelasnya. Dari sisi mahasiswa, proses adaptasi dirasakan dengan pengalaman yang berbeda-beda. Zahra Naina Utami, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2025 asal Cianjur, mengaku tidakterlalu merasakan tekanan sosial, namun menyadari adanya perbedaan signifikan dalam sistem belajar antara sekolah dan kuliah.

“Kalau sekolah kan setiap hari, sedangkan kuliah sesuai jadwal. Jadi harus bisa atur waktu sendiri,” ungkapnya. Zahra juga mengakui sempat mengalami stres di awal perkuliahan, terutama karena kurang disiplin mengikuti kelas. Ia menilai dukungan orang tua serta lingkungan kos yang kondusif sangat membantunya dalam proses adaptasi sebagai mahasiswa rantau.

Sementara itu, Muhammad Syarif Fasya Ramdani, mahasiswa Manajemen FEB angkatan 2025, mengungkapkan bahwa adaptasi awal terasa cukup sulit, khususnya dalam mengelola waktu dan menghadapi tenggat tugas yang berdekatan. Menurutnya, lingkungan pertemanan dan dorongan dari dosen turut mempengaruhi motivasi belajarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Syarif menerapkan strategi pengelolaan waktu dengan membagi tugas berdasarkan tingkat kepentingan dan batas waktu pengerjaan. Baik dosen maupun mahasiswa sepakat bahwa adaptasi mahasiswa baru merupakan proses yang membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak. Kemandirian belajar, keberanian bertanya, serta dukungan lingkungan kampus dan keluarga menjadi faktor penting agar mahasiswa baru dapat melewati masa transisi perkuliahan dengan lebih baik.

Reporter : Berliani, Fitria
PK : Nazwa Alya, Monalisa


==========
Narahubung, 
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum 
Instagram : @lpm.momentum.unla

Kembali