Absensi Belum Digital, Potensi Titip Absen Meningkat : Kedisiplinan Dimulai Dari Kejujuran

Author : Master Admin in Info Kampus

Info Kampus

Sistem absensi manual di Universitas Langlangbuana kini menjadi sorotan, karena dinilai masih memiliki celah keamanan yang rawan disalahgunakan, seperti praktik titip absen di kalangan mahasiswa. Proses absensi yang masih menggunakan tanda tangan di kertas juga berpotensi menyebabkan data kehadiran tidak terintegrasi dengan baik, sehingga berdampak pada kedisiplinan mahasiswa maupun dosen.

Dalam praktiknya, sistem absensi manual menimbulkan sejumlah kendala. Seperti memicu terjadinya kecurangan mahasiswa yang dengan mudah menandatangani kehadiran temannya yang tidak hadir, penggunaan kertas yang berlebihan, serta dosen atau staf administrasi yang memerlukan waktu tambahan untuk menginput. Oleh karena itu, diperlukan alternatif sistem yang lebih efisien dan minim kecurangan.

Salah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen Bisnis semester 8, berpendapat bahwa sistem absensi berbasis tanda tangan di kertas sebaiknya diperbarui dengan mengkombinasikan sistem manual dan digital. “Kalau dari pendapat saya, lebih baik dibuat dua. Jadi, digital ada dan faktur juga iya, karena kalau digital itukan suka ada miss nya jadi suka kadang error, makanya ada data dan fakturnya,” ujarnya.

Ia juga berpendapat bahwa absensi yang dilakukan secara langsung oleh dosen yang bersangkutan dapat mengurangi praktik titip absen. “Dapat karena real jadinya tidak akan ada manipulatif lagi.” Menurutnya, penerapan sistem absensi digital, misalnya melalui web SIAKAD, memiliki kelebihan dan kekurangan. “Ya balik lagi kaya tadi, kekurangan akan ada error, kelebihannya akan lebih efisien terhadap hal lainnya.”

Pendapat lain diungkapkan oleh Felix mahasiswa Fakultas Teknik, ia juga menilai bahwa sistem absensi berbasis kertas itu kurang efektif. “Menurut saya sistem absensi berbasis kertas itu kurang efektif, karena ada beberapa teman yang bisa titip absensi ke teman-teman lainnya meskipun dia itu tidak hadir,” ungkapnya.

Felix menambahkan bahwa menerapkan absensi web digital juga ada kekurangan dalam penggunaanya. Menurutnya, mahasiswa yang tidak hadir masih berpotensi melakukan absensi melalui sistem digital. Perkembangan teknologi dan media sosial dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan kejujuran jika dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung kedisiplinan. “Kalau absensi web digital ada kekurangannya, kalau kita tidak hadir masih bisa absen di web digitalnya. Kalau mau ditambahkan beberapa syarat misalnya foto di dalam kelas atau share lokasi, jadi kekurangannya ya bisa dimanipulasi bisa masuk atau hadir meskipun tidak masuk kelas,” jelasnya.

Sistem digital dinilai dapat meningkatkan kedisiplinan mahasiswa melalui pencatatan kehadiran yang lebih akurat. Ia juga berharap adanya pembaruan sistem absensi melalui kode yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswa. “Kalau pembaruan sistem absensi mungkin dosen yang mengajarnya ngasih sebuah kode untuk diterapkan di sistem kehadiran di web siakadnya. Jadi yang hadir bisa tercatat hadir yang tidak hadir ga bisa tercatat karena tidak dapat kodenya,” jelasnya.

Salah satu dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, menilai bahwa penggunaan sistem absensi manual masih cukup efektif karena mahasiswa hanya perlu datang ke kelas dan menandatangani daftar hadir. “Ya efektif lah. Kita tinggal datang ke kelas, tanda tangan, selesai. Kenapa disebut efektif? Karena kalau misalnya disiapkan dalam bentuk fingerprint atau apa, biayanya berapa ya kan? Jadi yang paling efektif itu memang manual, jadi apapun itu yang dipilih terlepas itu berhubungan dengan perkembangan teknologi maupun digital atau manual pada saat penerapannya benar bisa saja efektif,” ujarnya. 

Menurutnya, praktik titip absen merupakan hal cukup sering terjadi dalam perkuliahan. “Ya sering ya bisa ketahuan jelas lah, orang yang ngajar terus berdiri lihat banyakan begitu pas minggu depannya masuk, perasaan orang kemarin yang masuk 8 orang, sekarang yang absen jadi penuh. Normalnya juga sudah kayak gitu,” jelasnya.

Terkait penerapan absensi berbasis digital, ia menilai sistem tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi praktik titip absen di lingkungan perkuliahan. Namun menurutnya, persoalan utama sebenarnya bukan pada efektif atau tidaknya sistem absensi, melainkan pada kurangnya integritas mahasiswa yang memilih untuk menitipkan absensinya. “Karena kalau masalah efektif mah dengan kondisi Unla masih dianggap efektif. Tapi kalau masalah karena ada oknum-oknum mahasiswa yang titip absen, itu yang mau di pangkas kan? Nah, harus dengan digital,” ungkapnya.

Ia juga memberikan harapan dan saran dalam perkembangan sistem absensi digital di kampus. “Harapannya ya kampus bisa lebih melek teknologi lah. Pakai sistem digital yang lebih aman, entah itu fingerprint atau sistem lain yang susah buat diakalin. Tapi ya itu tadi, SDM nya juga harus siap, jangan sampai alatnya ada tapi nggak kepake atau malah bikin ribet dosen sama mahasiswanya sendiri,” tambahnya. 

Dengan demikian, peralihan sistem absensi digital menghadirkan cara baru dalam pencatatan kehadiran yang lebih modern dan transparan.

CP : Siti Syailillah H, Kelfin Wisnutama
Reporter : Andara Rhasya, Anya Amalia, Abdul Aziz

==========
Narahubung, 
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum 
Instagram : @lpm.momentum.unla

Kembali ke Berita