Dilema Quarter-Life Crisis: Merasa Gagal Karena Teman Sebaya Sudah “Start” Duluan

Author : Master Admin in Info Kampus

Info Kampus

Memasuki usia 20-an sering kali dibayangkan sebagai awal masa pendewasaan dan kebebasan. Namun, bagi banyak anak muda sekarang periode ini justru menjadi fase yang dipenuhi rasa cemas, bingung, hingga keraguan atas kemampuan diri sendiri. Fenomena ini
dinamakan quarter-life crisis yaitu fase yang umum dialami individu berusia sekitar 20-29 tahun.

Pada fase ini, seseorang mulai meninggalkan masa remaja dan masuk ke dunia yang lebih nyata untuk menghadapi berbagai tuntutan. Mulai dari tuntutan untuk bekerja, mandiri secara finansial hingga membangun karier serta memikirkan hubungan yang lebih serius. Tidak jarang muncul perasaan bingung dan takut tertinggal ketika melihat teman sebayanya yang tampak sudah lebih dulu “memulai” hidup mereka.

Perasaan tertinggal banyak dirasakan oleh lulusan baru yang merasa harus segera sukses setelah wisuda. Mereka memasuki fase baru dengan tanggung jawab yang lebih besar sekaligus menghadapi tekanan untuk cepat mendapatkan pekerjaan, memiliki penghasilan, dan memenuhi ekspektasi sosial.

Media sosial pun turut memperbesar tekanan tersebut. Unggahan mengenai keberhasilan teman mulai dari diterima kerja, melanjutkan studi, hingga membangun usaha, sering kali membuat lulusan baru membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain. Pencapaian orang lain pun akhirnya dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan diri sendiri.

Menurut psikolog yang diwawancarai RRI, perbandingan sosial inilah yang memicu rasa tertinggal, tidak percaya diri, dan mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Dari sisi psikologis, quarter-life crisis ditandai dengan munculnya overthinking, kecemasan berlebih, kehilangan motivasi, sulit mengambil keputusan, hingga merasa tidak memiliki arah hidup. Meski demikian, kondisi ini bukan merupakan tanda kegagalan.

Kematangan tidak terbentuk secara instan ketika seseorang memasuki usia 20-an. Setiap orang pun memiliki proses dan waktu yang berbeda dalam mencapai kematangan tersebut. Proses tersebut berlangsung secara bertahap, dimulai dari masa kanak-kanak, berlanjut ke masa remaja hingga memasuki fase dewasa.

Untuk mengatasinya, kita perlu berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan
menyadari bahwa setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Keraguan dapat diubah menjadi langkah-langkah kecil yang produktif. Kita juga dapat mencari support system yang mampu memberikan dukungan positif.

Selain itu, penting untuk belajar mencintai diri sendiri dengan menghargai setiap proses dan pencapaian yang kita lalui, sekecil apapun itu. Quarter-life crisis bukanlah tanda bahwa kamu gagal, melainkan bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Fase ini menjadi proses pertumbuhan yang membantu kita mengenali tujuan, keinginan dan arah hidup kita sendiri.

Sumber :
https://news.ums.ac.id/id/berita/pakar-psikologi-ums-quarter-life-crisis-tantangan-wajar-di-usia-2
0-an/
https://rri.co.id/madiun/berita-lain/2536794/psikolog-jelaskan-quarter-life-crisis-usai-lulus-kuliah
https://rri.co.id/sungailiat/kesehatan/2490884/standar-sosial-picu-quarter-life-crisis-pada-anak-m
uda
https://www.alodokter.com/memahami-quarter-life-crisis-dan-cara-menghadapinya

Penulis dan Desain: Hesti, Siti
Reporter: Najla, Anjar
Editor: Keredaksian

==============
Narahubung,
Humas LPM Momentum: +62 838-2969-2213 (Naufal)
Website: persmomentum.com
YouTube: LPM Momentum
Instagram: @lpm.momentum.unla

Kembali ke Berita