Hari Bakti Rimbawan: Mahasiswa dan Tantangan Menjaga Hutan Indonesia.

Author : Master Admin in Info Kampus

Info Kampus

Hari Bakti Rimbawan yang jatuh pada tanggal 16 Maret, diperingati di tengah kondisi hutan Indonesia yang kian tertekan. Dilansir dari Global Forest Watch, sepanjang tahun 2001 hingga 2024, Indonesia telah kehilangan 32 Juta hektar tutupan pohon. Sebanyak 73,4 persen atau sekitar 23 juta hektar hilang akibat alih fungsi lahan menjadi pertanian permanen.

Sebagai perbandingan, pulau Jawa memiliki luas 13 Juta Hektar. Artinya, kehilangan tutupan pohon di Indonesia dalam kurun waktu tersebut hampir tiga kali pulau Jawa. Angka tersebut bukan hanya statistik, melainkan memberi dampak nyata berupa meningkatnya risiko banjir, longsor, perubahan iklim, hingga krisis air bersih. Keyla, mahasiswa Akuntansi, menilai kerusakan lingkungan tidak lagi menjadi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. “Dampaknya langsung dirasakan oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Hari Bakti Rimbawan menjadi momentum bagi civitas akademika hingga masyarakat untuk merefleksikan pentingnya pelestarian hutan. LPM Momentum Universitas Langlangbuana mencoba menggali pandangan mahasiswa mengenai urgensi menjaga hutan serta bagaimana peran generasi muda dalam mendukung konservasi lingkungan.

Keyla juga mengatakan perubahan kebiasaan itu tidak mudah. Faktor kenyamanan, harga alternatif yang kadang lebih mahal, dan kurangnya dukungan lingkungan sekitar membuat orang cepat kembali ke pola lama. Hal serupa juga diungkapkan oleh Ahmad dari Fakultas Teknik yang menekankan bahwa perubahan gaya hidup membutuhkan kesadaran dan komitmen. "Yang paling susah itu membentuk kebiasaan baru yang tidak instan." ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Olyana Risnadi, mahasiswa Akuntansi angkatan 2024. Ia juga menilai bahwa gaya hidup modern membuat banyak orang sulit memulai kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. “Kadang orang sulit konsisten karena sudah terbiasa dengan gaya hidup yang serba modern,” ujarnya.

Perkembangan teknologi dan media sosial juga dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan. Menurut Abdullah, Mahasiswa prodi Arsitektur, aksi-aksi dari konten kreator di media sosial membuat masyarakat terpacu untuk menjadi lebih baik dalam hal menjaga lingkungan “Terutama dari banyaknya kegiatan aksi positif yang dilakukan dari konten kreator, yang mampu memotivasi untuk menjadi lebih baik.” ujarnya.

Keyla juga menilai bahwa media sosial efektif untuk menyebarkan edukasi dan informasi mengenai isu deforestasi dan kondisi hutan. Namun, Ia menekankan bahwa kampanye lingkungan tidak seharusnya berhenti pada viralitas semata. “Media sosial itu efektif untuk menyebarkan edukasi soal deforestasi dan kondisi hutan tantangannya gerakan jangan hanya viral sesaat tapi berkelanjutan dan berdampak nyata.” jelasnya.

Selain kampanye digital, mahasiswa juga dapat berkontribusi langsung dalam upaya pelestarian hutan. Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan kertas, terlibat dalam berbagai gerakan upaya pelestarian pohon, hingga mengedukasi masyarakat sekitar dinilai dapat menjadi bentuk kontribusi nyata generasi muda. Menurut Olyana, ia menegaskan bahwa perubahan tidak selalu dari langkah yang besar, cukup dari kebiasaan kecil seperti menanam pohon di lingkungan rumah atau mendukung kegiatan donasi penanaman pohon dapat menjadi awal dari kepedulian terhadap kelestarian alam. “Mulai dari hal kecil itu.” ucapnya.

Ahmad, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2023, menilai bahwa lingkungan akademik memiliki peran penting dalam mendorong diskusi dan aksi nyata terkait pelestarian hutan. Melalui seminar, diskusi ilmiah, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kampus dapat menjadi pusat edukasi yang mendorong lahirnya kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga lingkungan. 

Hal serupa juga disampaikan Abdullah. Ia menilai bahwa perubahan tidak dapat hanya bergantung pada individu, tetapi juga membutuhkan gerakan bersama. Menurutnya, pembentukan komunitas atau gerakan mahasiswa yang berfokus pada isu lingkungan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan. “Supaya masyarakat juga bisa lebih sadar dari banyaknya suara.” ujarnya.
Peringatan Hari Bakti Rimbawan tidak hanya dimaknai sebagai seremonial tahunan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan Indonesia. Istilah “bakti” dalam konteks ini tidak hanya merujuk pada profesi rimbawan semata, tetapi juga pada tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat dalam melindungi dan merawat hutan.
Bagi generasi muda, bentuk bakti tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai langkah sederhana namun konsisten, mulai dari membangun kesadaran lingkungan, mengedukasi masyarakat sekitar, hingga terlibat dalam kegiatan konservasi. Upaya-upaya kecil yang dilakukan secara kolektif diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar dalam menjaga keberlanjutan hutan Indonesia.
Pada akhirnya, Hari Bakti Rimbawan menjadi momen refleksi bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas segelintir pihak, melainkan tanggung jawab bersama. Di tengah laju deforestasi yang masih terjadi, komitmen untuk merawat hutan menjadi semakin penting agar generasi mendatang tetap dapat merasakan manfaatnya.

CP: Noval & Tesa
Reporter: Anjar & Handa

==========
Narahubung, 
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum 
Instagram : @lpm.momentum.unla


Kembali ke Berita