Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Langlangbuana (BEM UNLA) menghadirkan program strategis untuk mengawal transisi mahasiswa baru tahun angkatan 2026. Melalui Program Mentoring Pasca-Masa Pengenalan Lingkungan (MAPELING) yang berlangsung selama tiga bulan ini. BEM UNLA berupaya menjaga ketidakseimbangan nalar mahasiswa serta membimbing agar memahami tentang bagaimana menjadi seorang mahasiswa.
Seperti yang disampaikan oleh Ikhsan Maulana Tiandhika, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas. Ia menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan spiritualitas, hingga sadar dan mampu mengontrol dirinya sendiri.
“Yang ingin kami capai daripada mentoring ini adalah untuk menumbuhkan jiwa-jiwa kesadaran daripada mahasiswa itu sendiri ketika manusianya atau mahasiswanya sadar akan dirinya, sadar akan spiritualitasnya, justru akan memantik dirinya untuk bagaimana dia bisa bergerak.” ujarnya.
Program ini secara spesifik ditujukan untuk diikuti oleh seluruh fakultas. Namun, karena program ini masih tergolong baru dan baru pertama kali dilaksanakan, sehingga pelaksanaannya belum merata di seluruh fakultas.
“Karena ini baru di tahap dan di tahun pertama kita melaksanakan sebuah mentoring, yang dimana tahun sebelumnya sebelumnya tidak pernah, tidak pernah terjadi sama sekali, makanya per hari ini ada beberapa fakultas yang memang melanjutkan mentoring di fakultasnya dan ada beberapa fakultas juga yang tidak,” jelasnya.
Meski digagas oleh BEM Universitas, implementasi program ini disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, serta rumpun ilmu di masing-masing fakultas. Hal ini memberikan kebebasan berkehendak dan memilih arah ke depan secara mandiri tanpa ada paksaan dari BEM.
Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fajar Firdaus selaku Ketua BEM FISIP, memilih melanjutkan program ini dengan membangun kerja sama dengan para mentor dan himpunan jurusan. Hal ini diharapkan dapat mendukung pengembangan diri dan penyaluran minat dan bakat para mahasiswa baru, “ini untuk menyalurkan yang menjadi minat dan bakat si mahasiswa baru itu,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga berencana untuk mengadakan sebuah wadah baru untuk pengembangan diri dan kaderisasi di tingkat fakultas maupun himpunan. Program tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa menyalurkan minatnya, baik melalui organisasi maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Selain FISIP, Fakultas Hukum (FH) juga memutuskan untuk melaksanakan mentoring yang berlangsung selama tiga hingga enam bulan, hal ini disampaikan oleh Athalah sebagai Ketua BEM FH.
“Mungkin ini sebagai wadah juga untuk monitoring serta menjadi jembatan aspirasi juga kepada kawan-kawan maba ya yang tidak mengetahui konsep pasti kan karena mentor itu kan gerbang terdekat atau orang terdekat dari pada ormawa lain. Output nya bisa dilakukan lebih eksklusif jadi lebih mengetahui apa yang mereka butuh dan tau harus ke siapa. Mentoring di fakultas hukum ini berjalan selama 3-6 bulan cuma kalo secara keberlangsungannya itu tentatif ga terlalu pasti karena mungkin banyak yang terkendala secara waktu,” jelasnya.
Di sisi lain, terdapat fakultas yang mengambil jalur pendekatan dengan cara yang lebih cair tanpa format mentoring. Fakultas Teknik, melalui Dian selaku ketua BEM Teknik, menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk menolak esensi pembinaan. Namun, pelaksanaan di Fakultas Teknik mengandalkan ruang diskusi santai bertajuk “Kamis Teknik”.
Dalam forum tersebut, senior dan mahasiswa baru duduk bersama dalam forum diskusi yang bersifat setara tanpa sekat senioritas. Melalui ruang dialog terbuka ini, mahasiswa baru diajak mengenali lingkungan Fakultas Teknik. Sehingga merasa aman dan nyaman, serta dipersiapkan mentalnya untuk menjadi penerus estafet kepemimpinan teknik secara organik.
Hal serupa juga diterapkan oleh Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB). Chika selaku Ketua BEM FEB, menjelaskan bahwa komunikasi mentoring di fakultasnya tetap berjalan secara berkelanjutan namun tidak kaku, dengan memanfaatkan grup Whatsapp khusus setiap jurusan serta pengisian angket minat dan bakat,
“Sebenarnya kalau mentoring sih ada cuman kita engga bentuk dalam berkonsep secara formal gitu, mentoring kita tetap ada komunikasi dari mentor dan juga mahasiswanya dalam grup whatsapp kaya kemarin juga ada pengisian angket minat dan bakat gitu dari mahasiswa sendiri itu dilakukan oleh mentornya,” ujarnya.
Ia menerangkan bahwa rangkaian pengenalan di FEB berfokus pada kegiatan Malam Keakraban (Makrab) serta forum diskusi perjurusan guna mempererat rasa kekeluargaan, kepekaan sosial, serta memastikan keberhasilan jangka panjang dari MAPELING 2026 dapat berjalan secara optimal.
Meski pelaksanaan mentoring berbeda-beda, BEM UNLA akan tetap mendukung fakultas yang memilih melanjutkan program tersebut, sebab hal itu yang menjadi keinginan mereka. Ikhsan, Wakil Presiden Mahasiswa UNLA menyampaikan bahwa keberlanjutan program tersebut diserahkan kepada masing-masing fakultas agar mahasiswa dapat lebih aktif dalam lingkungan kampus.
Ia melanjutkan dengan harapan terkait program Mentoring ini. Ia berharap dengan adanya program ini, mahasiswa baru dapat menjadi sebuah agen perubahan dan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan, baik dalam keorganisasian kampus maupun luar kampus.
Keberagaman pendekatan di berbagai fakultas menunjukkan adanya upaya untuk melanjutkan pembinaan mahasiswa baru. Melalui sinergi antara BEM Universitas, BEM Fakultas dan para mentor lapangan, seluruh mahasiswa baru tahun 2026 diharapkan dapat menemukan ruang pengembangan diri, bertransformasi menjadi insan akademis yang bernalar kritis, berkarakter, serta siap berkontribusi bagi almamater.
Penulis dan Desain: Noval, Siti
Reporter: Desty, Zenab
Editor: Keredaksian
===================
Narahubung,
Humas LPM Momentum: +62 838-2969-2213 (Naufal)
Website: persmomentum.com
YouTube: LPM Momentum
Instagram: @lpm.momentum.unla