Menjalani ibadah puasa Ramadan di tanah rantau menjadi pengalaman penuh tantangan bagi sebagian besar mahasiswa rantau. Jauh dari keluarga, dituntut mandiri, serta padatnya aktivitas perkuliahan menjadi dinamika yang harus mereka hadapi. Meski berat, pengalaman tersebut justru menjadi sarana pembelajaran berharga dalam membentuk kedewasaan dan ketangguhan mental.
Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) tahun 2025, jumlah mahasiswa di Indonesia mencapai 9.949.502 orang. Di balik angka tersebut, sebagian diantaranya adalah perantau yang harus menjalani tradisi Ramadan tanpa kehadiran keluarga di samping mereka. Ramadan menjadi momen penting bagi mahasiswa rantau untuk menguji kemandirian dan kedewasaan.
Deden Ahmad Jamaludin, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024, mengakui beratnya memulai kebiasaan baru di tanah rantau. “Hal pertama yang saya rasakan cukup sulit karena sebagai anak rantau harus bisa mandiri, ” ujarnya. Hal serupa diungkapkan Yuniarti Nanda Akhira, mahasiswa Pendidikan Ekonomi angkatan 2025. Ia mengungkapkan rasa sedih saat pertama kali menjalani puasa jauh dari orang tua. “Rasa yang muncul pertama kali adalah rasa sedih. Ini pertama kalinya saya puasa jauh dari orang tua, harus mandiri menyiapkan menu sahur dan buka sendiri,” ujarnya.
Meski diwarnai kesedihan, semangat Yuniarti dalam menjalani perkuliahan tidak surut. Ia mengakui bahwa kehadiran teman-teman di kampus menjadi penyemangat. “Justru senang bisa bertemu teman-teman di kampus, jadi tidak merasa kesepian dan waktu cepat berlalu. Meskipun lelah, apalagi kalau harus naik turun tangga,” ujarnya.
Selain rasa rindu keluarga, mahasiswa rantau juga menghadapi tantangan lain saat berpuasa. Deden mengaku sempat mengalami kecemasan berlebihan “Tentunya pernah. Apalagi di masa puasa sekarang, memikirkan rasa dahaga itu pasti ada,” ucapnya.
Pengalaman berpuasa sambil kuliah di perantauan dinilai mampu membentuk kedewasaan sikap. Menurut Deden, hal tersebut terjadi karena puasa menuntut seseorang untuk menahan hawa nafsu sekaligus melatih kedisiplinan diri. Sejalan dengan hal tersebut, Yuniarti menilai proses ini membuat seseorang menjadi lebih matang secara emosional.
“Kita memerlukan disiplin dan pengaturan waktu yang baik untuk menyeimbangkan puasa, kuliah, dan kegiatan lain. Hal ini juga membuat kita lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,
” ucapnya.
Di tengah berbagai tantangan, dukungan dari orang terdekat menjadi penggerak semangat. Bagi Deden, doa orang tua adalah kekuatan utama. Hal serupa dirasakan Yuniarti yang mengaku mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. “Orang pertama tentu orang tua.Selain itu, teman kampus, teman kos, atau saudara yang tinggal di Bandung juga banyak
membantu,” ungkapnya. Selain aspek mental, manajemen keuangan menjadi tantangan nyata bagi mahasiswa rantau selama Ramadan.
Dilansir dari CNBC Indonesia, data Mandiri Spending Index (MSI)menunjukkan bahwa pengeluaran masyarakat kini semakin terkonsentrasi pada kebutuhan primer, dengan porsi belanja restoran dan supermarket yang melonjak hingga hampir 40%.
Kondisi ini menjadi tekanan ekonomi tersendiri bagi mereka yang memiliki anggaran terbatas.
Menghadapi tekanan ekonomi tersebut, Deden memilih untuk memanfaatkan warung makan
sebagai solusi kebutuhan makan sehari-hari.
“Saya atur keuangan dengan membeli nasi ke
warung makan, itu saja,” ucapnya. Ia menekankan bahwa kunci utama berhemat selama Ramadan yaitu dengan disiplin dalam mengelola uang serta menghindari pengeluaran yang tidak perlu.
“Intinya, kita harus bisa mengatur keuangan dengan baik dan berhenti nongkrong yang tidak jelas,
” ujarnya. Sementara itu, Yuniarti menekankan bahwa kunci utama untuk mengatur keuangan bulanan
adalah dengan membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia menyarankan membeli makanan
dengan porsi yang secukupnya demi menghindari sifat mubazir dan menetapkan target pengeluaran harian agar dana tidak habis di awal bulan.
“Kuncinya utamakan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Lebih baik menargetkan setiap harinya mau mengeluarkan uang berapa rupiah agar lebih terkendali, ” ujarnya. Menjadi mahasiswa rantau di bulan Ramadan mengajarkan bahwa mandiri itu perlu dipaksa, dan dewasa itu dibentuk dari proses. Nilai kuliah memang penting, tapi kemampuan untuk
bertahan dan tetap semangat beribadah di tengah segala keterbatasan adalah pencapaian.
CP: Syalza, Bintang
Reporter: Salwa, Hanaa
==========
Narahubung,
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum
Instagram : @lpm.momentum.unla