Isu pengelolaan sampah di sekitar kampus masih menjadi perhatian yang serius. Perguruan tinggi berperan mendorong inovasi, teknologi serta pendidikan lingkungan untuk meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Universitas Langlangbuana menunjukan komitmennya terhadap isu lingkungan dengan menghadirkan mesin pengolah sampah berbasis teknologi yang telah diresmikan pada 27 April 2026. Kehadiran mesin ini menjadi langkah nyata dalam mendukung konsep green campus sekaligus membantu mengatasi permasalahan penumpukan sampah yang belum dikelola secara optimal.
Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi, Zahra Hasna Raniah, menilai keberadaan mesin ini sangat membantu mengurangi penumpukan sampah di kampus. “Ya dampak positifnya dari saya sebagai mahasiswa di Universitas Langlangbuana, mungkin dari adanya mesin ini dari kebersihannya lebih terjaga, dan ngaruh terhadap oksigen jadi untuk kesehatan dan kebersihan itu ngaruh banget untuk kita khalayak umum,” ujarnya.
Sampah yang sebelumnya sering menumpuk kini dapat diolah melalui sistem yang lebih terarah, sehingga lingkungan kampus menjadi bersih, tertata, dan nyaman. “karna banyak banget ngeliat sampah yang sudah menumpuk di situ dan ga di olah, jadi bikin mahasiswa atau mungkin tamu dari luar, kan banyak juga yah umkm-umkm disana mungkin jadi terhambat dengan adanya keberadaan sampah yang menumpuk di parkiran unla,“ ungkap zahra.
Pengelolaan sampah secara efektif dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Mengutip Kompas.com, mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik penerapan sistem pengelolaan sampah yang terintregasi dapat membantu mengurangi dampak lingkungan, mendungkung kesehatan masyarakat, serta mendorong terbentuknya lingkungan yang berkualitas.
Selain menghadirkan fasilitas pengolahan sampah, upaya menjaga kebersihan kampus juga perlu didukung melalui edukasi kepada mahasiswa. Kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan sampah dinilai perlu terus ditingkatkan agar tercipta rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan kampus. “Bukan cukup hanya inovasi tempat pengelolaan sampahnya tapi harusnya, ada edukasi kepada mahasiswanya dan kesadaran juga dari mahasiswanya tentang bagaimana bahaya sampah, maksudnya agar kita sama-sama sadar, bukan hanya tugas salah satu pihak, tapi itu benar-benar tugas kita semua yang harusnya,” ucap Fajar salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi.
Sementara itu, mahasiswa Teknik Sipil, Dafa Maulana, menilai pengelolaan sampah di kampus sebaiknya tidak hanya berfokus pada penggunaan mesin, tetapi juga membangun sistem dan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dari sisi pengelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Langlangbuana, Prof. Dr. Awan Setiawan, S.Kom., M.T, menjelaskan bahwa latar belakang utama hadirnya mesin ini adalah persoalan sampah yang terus meningkat di lingkungan kampus dan perkotaan.
Menurut Prof Awan, biaya pengelolaan sampah yang tinggi serta keterlambatan pengangkutan menjadi alasan utama perlunya sistem pengolahan mandiri “UNLA sendiri harus tiap bulan mengeluarkan 2,5 sampai 5 juta. Nah bagaimana kalau misalkan sampah itu dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan masalah termasuk juga biaya,” paparnya. Dalam penerapannya, sampah yang berasal dari lingkungan kampus terlebih dahulu dikumpulkan oleh petugas kebersihan, kemudian dipilah sebelum masuk ke proses pembakaran. Jenis sampah yang diolah terdiri dari sampah plastik, sisa makanan, kertas, hingga sampah campuran lainnya. Namun, sampah yang masih memiliki nilai guna akan dipisahkan terlebih dahulu agar dapat dimanfaatkan kembali, sedangkan sampah yang dianggap mengotori akan diproses melalui mesin pembakaran.
Meski dinilai inovatif, pengolahan mesin sampah ini tetap memiliki tantangan, terutama pada sumber daya manusia. Prof Awan menjelaskan bahwa operator harus memiliki pemahaman SOP yang tepat agar proses berjalan secara jangka panjang dan efektif. “Jadi kata kuncinya harus punya sumber daya yang mumpuni, artinya orang yang terlatih untuk proses pembakaran,” paparnya. Sejauh ini, Prof Awan menilai mesin pengolah sampah terbukti membantu mengurangi volume sampah kampus secara signifikan. Sampah yang sebelum nya bisa menumpuk hingga beberapa ton per minggu kini dapat di proses cepat tiap hari.
“Nah bayangkan nunggu diangkut 3,5 ton kapan. Tapi dengan mesin ini sangat membantu,” ucapnya.
Mesin pengolah sampah ini dijadwalkan beroperasi setiap hari mulai pukul 16.00 WIB setelah aktivitas perkuliahan selesai. Menurut Prof. Awan, jadwal tersebut diterapkan agar proses pembakaran tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di kampus. Namun, mesin tetap dapat dioperasikan selama 24 jam apabila volume sampah sedang meningkat.
“Nah tinggal masalah pembakarannya tadi. Ya bakarnya kan selama ini kita jadwalkan dari jam 4 sore. Karena mungkin jam 4 sore kalau misalkan hanya 25 karung 3 jam juga selesai,” ujarnya.
Selain dampak positif terhadap kebersihan lingkungan, hasil pengolahan sampah juga memiliki potensi pemanfaatan lanjutan. Sampah plastik yang dipilah dapat diolah menjadi bahan penelitian seperti briket, bahan bakar alternatif, hingga material daur ulang yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan, menurut Prof. Awan, sampah plastik juga berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar seperti solar melalui penelitian lebih lanjut. Kehadiran mesin sampah baru di Universitas Langlangbuana menunjukan komitmen kampus untuk menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Namun, teknologi seperti mesin sampah saja belum cukup.
Kesadaran para mahasiswa, dosen, dan serta semua pihak di kampus menjadi faktor penting utama. Agar program ini tidak hanya berlangsung dalam jangka pendek, tetapi menjadi sistem yang berkelanjutan dan terus berjalan. Jika dikelola dengan baik, inovasi ini berpotensi menjadi contoh edukasi lingkungan yang dapat diterapkan di kampus lainnya.
PK : Annisa Rahma, Anjar Mustopa
Reporter : Kelfin Wisnutama, Siti Syailillah
==========
Narahubung,
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum
Instagram : @lpm.momentum