Fenomena panic buying, atau pembelian barang secara berlebihan, belakangan ini kembali menjadi sorotan masyarakat. Perilaku ini tidak hanya menyebabkan kelangkaan stok barang di pasaran, tetapi juga memicu gejolak ekonomi hingga menimbulkan kecemasan sosial.
Menurut pengamatan Nurul Latipah, mahasiswa Fakultas Hukum, peningkatan tindakan panic buying terlihat jelas. "Iya terlihat meningkat, menurut saya ini karena rasa takut kehabisan stok barang dan makanan," ujarnya.
Rasa takut yang dialami masyarakat bukanlah tanpa alasan. Dilansir dari Alodokter, panic buying sering kali dipicu oleh rasa tidak berdaya dan ketidakpastian dalam menghadapi situasi krisis. Secara psikologis, membeli barang dalam jumlah besar memberikan ilusi kendali (sense of control) sehingga individu merasa lebih aman di tengah kondisi yang tidak menentu.
Nurul Latipah menambahkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi perilaku ini adalah rasa cemas, ditambah dengan pengaruh informasi dari media sosial yang belum tentu benar atau berita hoaks.
"Faktor utamanya kecemasan, pengaruh media sosial dan berita yang belum benar adanya. Hal ini bisa menyebabkan stres dan cepat menyebar karena terpengaruh dari orang-orang lain juga," tambahnya.
Fenomena serupa juga sempat terjadi di Indonesia, salah satunya yaitu panic buying Bahan Bakar Minyak (BBM). Mengutip Detik.com, peristiwa ini terjadi pada awal Maret 2026, ketika sejumlah SPBU diserbu warga akibat kekhawatiran akan kelangkaan BBM. Masyarakat berbondong-bondong membeli BBM secara berlebihan. Faktanya, kondisi ini sering kali hanya dipicu oleh kekhawatiran yang belum terbukti, sehingga menimbulkan kelangkaansemu di lapangan.
Pandangan ini sejalan dengan perspektif akademisi. Ahmad Nada Kusnendar, S.Sos., M.I.Kom., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, menyoroti fenomena panic buying dari sudut komunikasi dan ekonomi. Menurutnya, panic buying adalah fenomena multidimensi yang memicu guncangan permintaan secara tiba-tiba. "Dari perspektif ekonomi panic buying ini adalah fenomena shock demand jadi ada guncangan permintaan ada sebuah gangguan tak terduga pada permintaan barang dan jasa yang merusak keseimbangan pasar secara instan," jelasnya.
Akibatnya, kurva permintaan bergeser ekstrem sementara pasokan tetap, sehingga memicu
lonjakan harga. Kondisi ini menciptakan inflasi lokal yang menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang kehilangan akses terhadap kebutuhan pokok.
Mengutip Kompas.com, fenomena ini diperparah oleh teori perilaku ekonomi, di mana manusia cenderung mengikuti kerumunan (herding behavior) saat merasa terancam, yang pada akhirnya merusak stabilitas pasar.
Selain pengaruh media sosial dan lingkungan, aspek psikologis dan ekonomi turut memperkuat perilaku panic buying. Ahmad Nada Kusnendar menyebut bahwa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu faktor yang berperan besar dalam mendorong masyarakat melakukan pembelian secara berlebihan.
“Secara psikologis adanya rasa takut kehilangan yang lagi rame dikalangan sekarang-sekarang fear Of Missing Out dimana kecemasan terhadap ketidakpastian serta kebutuhan rasa aman ini mendorong orang membeli berlebihan sebagai bentuk kontrol diri karena ketakutan," paparnya.
Untuk mencegah fenomena ini, masyarakat perlu membangun pola pikir yang lebih rasional dalam menghadapi situasi krisis. Berdasarkan Alodokter, masyarakat disarankan untuk membeli barang sesuai kebutuhan, bukan karena dorongan panik atau ikut-ikutan. Selain itu, penting memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya, mengingat banyak berita tidak valid dapat memicu kecemasan berlebihan.
Ahmad Nada menilai situasi ini sebagai bentuk kegagalan literasi informasi yang berdampak pada stabilitas ekonomi nasional. Oleh karena itu, edukasi yang harus ditanamkan adalah kemampuan memverifikasi informasi sebelum bereaksi secara emosional.
"Edukasi yang harus ditekankan adalah penguatan literasi media terutama digital dan melakukan verifikasi informasi dari sumber data resmi sebelum bereaksi secara emosional ini juga sangat penting," tutupnya.
Dengan informasi yang jelas dan pemahaman yang tepat, diharapkan masyarakat tidak lagi melakukan panic buying sehingga stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.
Sumber:
https://money.kompas.com/read/2026/04/01/081800726/mengapa-panic-buying-terjadi-saat-
krisis-ini-penjelasannya
https://www.alodokter.com/panic-buying-penyebab-dampak-dan-cara-menghadapinya
https://www.detik.com/jatim/berita/d-8388429/fenomena-panic-buying-bbm-terjadi-apa-itu/am
p
CP: Hanaa Mutyara, Muhammad Luthfi Zahaban
Reporter: Bintang Nikmatul, Annisa Rahma
==========
Narahubung,
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum
Instagram : @lpm.momentum.unla