Realita Mahasiswa Reguler di Tengah Tekanan Ekonomi dan Akses Beasiswa

Author : Master Admin in Info Kampus

Info Kampus

Di tengah dinamika kehidupan kampus yang semakin kompleks, semakin banyak mahasiswa kelas reguler Universitas Langlangbuana memilih untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu. Keputusan ini didorong oleh berbagai alasan, mulai dari tuntutan ekonomi hingga keinginan memperluas pengalaman dan kemampuan diri. Fenomena tersebut menjadikan isu manajemen waktu serta akses terhadap beasiswa semakin menonjol, terutama bagi mahasiswa yang harus menyeimbangkan kebutuhan finansial dengan tuntutan akademik.

Menurut Bapak Agus Sidiq Rahmatullah Sukiman S.E,. M.M sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Langlangbuana, bekerja paruh waktu kini bukan hanya untuk menambah finansial tetapi juga bagian dari pengembangan softskill mahasiswa, “Saya rasa untuk bekerja paruh waktu ya faktornya itu mahasiswa sekarang di samping harus punya ilmu atau pengetahuan dibidang akademis tapi mereka juga harus punya soft skill, nah soft skill ini bisa didapat salah satunya dari magang bekerja jadi nanti ketika menghadapi dunia kerja yang nyata ketika mereka lulus setidaknya mereka sudah punya gambaran dan juga soft skill untuk menghadapi bagaimana si dunia kerja itu.” Jelasnya.

Hal serupa disampaikan oleh Dr. Gun Gunawan Rachman, S.E., M.M., Ak., CA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Langlangbuana. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa bekerja sambil kuliah umumnya didorong oleh dua faktor utama, yaitu kebutuhan ekonomi dan keinginan mencari pengalaman. Menurutnya, sebagian mahasiswa terpaksa mengambil pekerjaan paruh waktu karena mengalami kesulitan membayar SPP, sementara sebagian lainnya, terutama mahasiswa semester lima ke atas yang jadwal kuliahnya lebih longgar, memilih bekerja untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kompetensi mereka di dunia kerja. 

Di tengah alasan ekonomi dan kebutuhan pengalaman yang mendorong mahasiswa reguler bekerja sambil kuliah, akses terhadap beasiswa sebenarnya menjadi pilihan pembiayaan lain yang turut mereka pertimbangkan. Namun, persyaratan beasiswa yang beragam, baik dari kampus maupun pihak luar, seringkali membuat mahasiswa harus menimbang kembali peluang mereka.

Bapak Agus menekankan pentingnya kepercayaan diri mahasiswa dalam mendaftar beasiswa, terutama beasiswa dari pihak luar “beasiswa itu kita dan mahasiswanya harus percaya diri bahwa kita mampu bersaing dengan mahasiswa lain, kita daftar saja jangan takut untuk mencoba dan bersaing,” tegasnya

Di sisi lain, kampus berupaya memastikan proses beasiswa berlangsung transparan dan inklusif. Informasi disebarkan melalui dosen wali, wakil dekan III, hingga media sosial seperti Instagram dan grup WhatsApp kelas. “karena kita tidak membeda-bedakan gender selama dia bisa memenuhi persyaratan,” tegas Dr. Gun

Ia juga menjelaskan bahwa sebenarnya proses beasiswa tidak sulit, hanya saja kuotanya terbatas. “saya rasa tidak sulit ya karena selama ini juga kita kan biasanya ada kuota nah berdasarkan kuota itu tentunya tidak semua mahasiswa itu bisa diterima menjadi peserta beasiswa karena misalkan minimal IPK 2.75 sedangkan yang di atas 2.75 ada banyak misalkan yang 3.5 ke atas ada 15 nah kuotanya ada 10 makanya yang kebagian yang IPK nya paling tinggi,” terangnya.

Namun, pengecualian terjadi pada Beasiswa Rawan Melanjutkan pendidikan (RMP), yang lebih menekankan status ekonomi mahasiswa dan diverifikasi melalui data pemerintah. 

Sementara itu dari sisi mahasiswa alasan bekerja sambil kuliah umumnya berkaitan dengan kebutuhan finansial. Gilang Nugraha, mahasiswa akuntansi semester 3, mengakui bahwa keputusan tersebut didorong oleh tuntutan ekonomi “Karena kebutuhan pribadi, saya banyak kebutuhan dari mulai biaya, kebutuhan sehari hari dan lain-lain,” ungkapnya. 

Ia memilih tetap berada di kelas reguler karena pekerjaan yang dijalaninya memiliki jam kerja yang tidak terikat. “Tidak begitu kesulitan karena pekerjaan nya cukup fleksibel jadi tidak ada kesulitan saat bekerja dan kuliah, ”tambahnya. 

Hal serupa disampaikan oleh Aditya Permana, mahasiswa Manajemen semester 3, yang memutuskan bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan tanpa bergantung pada orang tua. “Karena saya ingin memiliki pendapatan yang lebih, tidak meminta kepada orang tua ataupun sebagainya, jadi saya memilih untuk bekerja sambil kuliah,” jelasnya. 

Aditya juga menjelaskan bahwa pekerjaannya tidak mengganggu aktivitas kuliahnya “waktu kuliah saya pakai untuk kuliah dan waktu bekerja saya pakai untuk bekerja, jadi tidak mengganggu waktu, mungkin hari sabtu saja karena ada ukm nya jadi saya kerja setengah hari,” jelasnya.

Secara keseluruhan, baik bekerja sambil kuliah maupun mengejar beasiswa sama-sama menuntut kemandirian dan kemampuan manajemen waktu. Selama mahasiswa mampu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan aktivitas tambahan, kedua hal tersebut dapat menjadi pengalaman berharga yang memperkuat kesiapan mereka menghadapi dunia kerja.

Reporter : Giar, Berlin
Penulis : Hesti
Design. : Aziz

==========
Narahubung, 
Humas LPM Momentum : +62 813-2531-8268 (Safira)
Website : persmomentum.com
YouTube : LPM Momentum 
Instagram : @lpm.momentum.unla

Kembali ke Berita